Assalamu alaikum wr. wb.
Tema pertama yang saya ingin diskusi dengan rekan-rekan adalah perang. Mengapa? Karena agama Islam sedang dibajak, oleh mafia kelas dunia. Yaitu dengan mengidentikan Islam dengan PERANG.
Sebagai muslim, anda dan saya mungkin juga kurang berkenalan dengan Al Quran sehingga kita bisa saja gagap ketika ada seorang non muslim menanyakan "Memang Islam mengajarkan perang?". Saya sedang belajar, dan saya ingin share beberapa ayat dalam Al Quran yang membahas tentang perang.
A. Mengapa Perang Diizinkan
Surat al Hajj
39. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.
40. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
Pada masa awal dakwah Rasulullah Saw di Makkah, banyak sekali orang-orang kafir Quraisy yang ingin membunuhnya, ingin memerangi Rasulullah Saw dan pengikutnya. Saat itu belum ada perintah perang. Yang ada adalah perintah berhijrah atau pindah ke Madinah. Rasulullah Saw dan pengikutnya hijrah ke Madinah, tentu saja meninggalkan rumah beserta harta bendanya, untuk taat pada perintah Allah berhijrah.
Saat perintah perang itu datang, maka barulah Rasulullah Saw beserta pengikutnya berperang. Dan berperang itu alasannya bukan untuk menjajah, bukan untuk merampok daerah jajahan, bukan untuk kekuasaan, tetapi lebih untuk mempertankan aqidahnya. (lihat surat Al Hajj ayat 40).
Hal ini dapat diterima dengan logika kita. Ketika penjajah datang, mengusir atau menjajah kampong halaman kita, serta mengusik iman kita, apakah kita sebaiknya membalik ke belakang atau berjihad? Tentu saja, jawabannya adalah berjihad. Tidak mungkin rakyat Indonesia dapat menikmati kemerdekaan ini, tanpa semangat para Syuhada yang telah berjihad pada perang sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan.
B. Perang untuk Bela diri, Pertahanan dan Mempertahankan Iman
Berperang dalam Islam, selalu dilatarbelakangi oleh mempertahankan iman. Ketika kaum kafir tidak henti-hentinya memerangi kaum muslim, dan berusaha untuk membalikan pada kekafiran, maka berperang menjadi suatu perintah yang dianjurkan.
Surat Al Baqarah:
217. Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
C. Ketentuan terhadap Non Muslim yang Tidak Menyerang
Lantas apakah kita harus memusuhi semua orang kafir?
Surat Al Mumtahanah:
8. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
9. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.
Dari 2 ayat di atas, jelaslah bahwa kita tetap harus berlaku adil kepada semua manusia, baik saudara seagama, maupun non muslim, jika mereka tidak memerangi kita. Sehingga jelaslah bagaimana status orang-orang yang melakukan pembunuhan dan bom bunuh diri, yang mengorbankan manusia, baik yang seiman, tapi beda mazhab, ataupun yang non-muslim? Ya mereka itu adalah orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. Lihat kembali ayat di bawah ini :
D. Konsekuensi Membunuh Manusia
Surat Al-Maidah
32. Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.
Sejak diturunkan Taurat oleh Allah Swt kepada Nabi Musa as, telah dijelaskan bahwa membunuh manusia itu diharamkan. Kata manusia ini adalah mencakup manusia keseluruhan, baik muslim maupun non muslim. Kata muslim adalah orang yang beriman/ berserah diri dan menjadi pengikut nabi-nabi sesuai zamannya. Jadi membunuh manusia tidak boleh. Pada ayat selanjutnya, Al Maidah ayat 33, dijelaskan bahwa qisas bagi yang membunuh dengan sengaja adalah dibunuh atau disalib.
Hal ini menunjukan hukuman mati bagi orang yang membunuh tidak hanya diberlakukan sejak diturunkan Al Quran, tetapi sejak diturunkan Taurat kepada nabi Musa as.
Qishas dalam Al-Quran surat Al BAqarah:
178. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.
179. Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.
Ayat di atas menjelaskan bahwa ketentuan qishas ini bukan untuk Allah Swt, tetapi untuk kepentingan manusia itu sendiri. Kelangsungan hidup. Beberapa kerusuhan antar suku seringkali terjadi karena adanya pembunuhan 1 orang. Karena merasa sakit hati, suku lainnya melakukan balas dendam dengan berlebihan, bukan saja yang membunuh yang dibantainya, tetapi penduduk yang 1 kampong dengan pembunuh menjadi korban juga. Apabila semua orang mengetahui bahwa membunuh 1 jiwa dengan sengaja, qisashnya adalah dibunuh, maka sebenarnya orang tidak akan semena-mena melakukan pembunuhan, kerusuhan, peperangan yang mengorbankan banyak jiwa.
Tetapi manusia memang selalu berada di antara iman dan nafsu. Ketika nafsu yang menguasainya, maka tidak segan-segan manusia melakukan tipu daya untuk membunuh atau membuat scenario peperangan, demi kepentingan duniawi semata.
Kembali lagi ke inti utama : Perang dalam Islam. Sudah jelas bahwa perintah perang turun ketika kita diperangi, diperangi karena kita berusaha mempertankan iman. Dan membunuh orang lain qishash nya adalah dibunuh, sebuah ketetapan yang sudah ada sejak taurat diturunkan.
Semoga Allah Swt senantiasa melindungi kita dari nafsu yang mengiring kita untuk menciptakan kerusakan dimuka bumi-perang, baik dalam hal kepentingan politik, ekonomi (harga minyak, lading minyak dsb), maupun motif lainnya.
Wassalamu alaikum wr wb.
mencintaiquran
Rabu, 15 Juli 2015
sedekah dalam Al Quran
Sedekah
Assalamu alaikum wr wb.
Dear sahabat, ketika kita membaca Al Quran, hal yang paling sering diingatkan oleh Allah adalah shalat dan sedekah, berbagi. Kali ini saya coba fokus ke sedekah/ berbagi dahulu.
Saya sendiri masih jauh dari kriteria orang yang ideal menurut Al Quran dalam hal berbagi. Kadang kita manusia menggunakan perhitungan paling kecil dari berbagi yaitu, zakat. Padahal zakat itu adalah pensucian harta, Allah Swt memerintahkan kita untuk ringan tangan dalam bersedekah. Saya akan mengambil beberapa ayat dalam Al Quran tentang sedekah. Tidak akan cukup laman ini jika saya ambil semua ayat tentang sedekah, karena sebegitu seringnya Allah Swt mengingatkan kita soal keutamaan sedekah
A. Perintah Sedekah
Jika kita membaca Al Quran dari awal, pembukaan di surat Al Baqarah langsung menyinggung tentang sedekah.
Surat Al Baqarah:
1. Alif Laam Miim.
2. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
4. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
B. Ganjaran kebaikan sedekah
Allah Swt juga memberikan kita pacuan untuk bersedekah dengan ganjaran kebaikan di dunia dan akhirat. Jika tidak karena janji Allah Swt, mungkin sebagian besar kita begitu kikir, dan cenderung menyimpan harta untuk dirinya sendiri, tidak memberikan manfaat kepada orang lain.
Surat Al Baqarah
261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Jika kita percaya semua firman Allah swt dan janjinya dalam Al Quran itu benar, maka kita akan yakin dengan janji Allah Swt pd ayat di atas. Bahwa setiap sddekah ganjarannya sangat besar, diumpamakan digandakan 700 x lipat.
Jika kita tidak dididik untuk berbagi mungkin kecenderungan kita adalah mengikuti hawa nafsu. Nilai Rp. 50 juta secara matematis sama dengan Rp.50 juta. Tetapi di mata Allah Swt, Rp. 50 juta untuk sedekah, amal jariyah atau wakaf berbeda dengan Rp. 50 juta untuk membeli sesuatu yang tidak ada manfaatnya, missal tas mahal atau perhiasan.
Rp.50 juta untuk amal jariyah, misalnya untuk fasilitas pendidikan, atau membuat sumur untuk daerah yang kesulitan sumur, atau masjid. Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 261, kita sudah dijanjikan bahwa akan dilipatgandakan. Selain itu menjadi bekal kita di dunia maupun di akhirat.
Kita sering mendengar istilah passive income dalam berbisnis, dimana harta kita akan memberikan pendapatan tanpa kita bekerja.
Konsep amal jariyah dapat dianalogikan dengan passive income. Karena setiap uang yang kita sedekahkan bermanfaat bagi orang lain, akan menjadi tambahan kebaikan atau pahala bagi kita, Sebagai manusia pasti kita tidak luput dari khilaf ; marah, buruk sangka, berghibah, underestimate orang lain dsb. bahkan bias jadi amalan sholat kita yang kualitasnya biasa saja kita mampu mengimbangi dosa-dosa kecil yang menumpuk itu,
Disinilah amal jariyah menjadi passive income yang akan membantu menambah pahala dan kebaikan bagi kita. Selain janji Allah bahwa Allah Swt akan mengantinya bahkan melipatgandakannya.
Dalam ajaran Islam juga dijelaskan bahwa, semua amalan manusia putus saat ia meninggal kecuali 3 hal :
1. Amal jariyah
2. Ilmu yang bermanfaat
3. Doa anak sholeh
Jika kita belum mampu berwakaf, mari sedekah jariyah dari hal yang kecil. Rp. 100 ribu untuk makan di restoran, tidak menjadi apa-apa saat makanan itu sudah menjadi kotoran. Tapi Rp. 100 ribu bisa menjadi passive income kita, dengan memberikan 1 set alat sholat bagi sesama, atau yang membutuhkan.
Bukan berarti kita tidak boleh makan di restoran, tetapi kita juga perlu menggunakan perhitungan saat membelanjakan setiap rupiah kita. Mungkin bisa dimulai bulan ini, 1 bulan 1 mukena, atau 1 bulan 1 sarung. Bayangkan, ketika mereka bermunajat kepada Allah Swt menggunakan alat sholat yang kita berikan, itu menjadi passive income kita, di tengah kehidupan duniawi kita yang mungkin setiap detiknya masih banyak hal sia-sia.
C. Teguran jika kita kikir/bakhil
Begitu besarnya keutamaan sedekah, Allah Swt menegur kita agar menjauhkan diri dari sikap kikir.
Surat Al Ma'uun:
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,
6. orang-orang yang berbuat ria.
7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Peringatan jika terlalu mencintai harta
Surat Al Humazah:
1.Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,
3. dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,
4. sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
5. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
6. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
7. yang (membakar) sampai ke hati...
Al Adiyat:
6. sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
7. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
8. dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
9. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,
10. dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,
11. sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.
Maksudnya keadaan mereka adalah hasil dari timbangan kita setelah dibangkitkan dari kubur. Dalam Al-Quran berulang-ulang disebutkan bahwa setiap saat malaikat mencatat amal baik dan buruk kita. Merugilah kita jika buku catatan itu ternyata menunjukan, amal baik kita tekor, tidak dapat menutupi catatan buruk kita.
D. Konsekuensi amal baik dan buruk manusia
Sedekah adalah penolong kita untuk mengimbangi catatan buruk kita.
Surat Az Zalzalah:
6. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.
7. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
8. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.
Bagaimana konsekuensi dari hasil catatan amal ini? Mari simak terjemahan
Surat Al Qariah:
6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya,
7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya,
9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
10. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.
Summary: Ajaran Islam sangat menganjurkan untuk memberikan kebaikan kepada sesama. Sedekah itu bukan untuk orang lain, bukan untuk Allah Swt, tetapi untuk menyelamatkan kita sendiri, untuk kebaikan di dunia dan akhirat kita, jika niat kita benar-benar lurus bahwa sedekah itu semata-mata untuk mencari keridhaan Allah Swt bukan untuk riya.
Mohon maaf jika ada kekurangannya. Masih sangat banyak ayat yang lain membahas tentang sedekah, mari mengisi hari-hari kita dnegan Al Quran bagi yang sudah fasih bahasa arab, atau mentadabur Al Quran dengan membaca terjemahannya. Insya Allah kita akan menemui begitu banyaknya ayat tentang sedekah.
Wassalamu alaikum wr wb.
shalat
Assalamu alaikum wr wb
Mungkin hampir semua dari sahabat muslim mengetahui bahwa sholat adalah rukun Islam yang kedua, yang perintah dari Allah Swt bagi kita semua. Tetapi apakah kita semata-mata sholat karena untuk menggugurkan kewajiban?
A. Perintah sholat sejak Nabi nabi sebelumnya :
Sholat adalah salah satu perintah Allah Swt kepada manusia, bukan hanya umat Rasulullah Saw, tetapi sudah sejak rasul-rasul sebelumnya.
Perintah kepada Nabi Ibrahim as, Surat Al Baqarah:
125. Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”. (sholat)
Perintah kepada nabi Musa as, Surat Taahaa:
11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa.
12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.
13. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Perintah kepada Nabi Isa A
30. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
31. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.
Perintah kepada Nabi Muhammad Saw, surat Al Baqarah:
1.Alif Laam Miim.
2. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa perintah mendirikan shalat tidak hanya kepada Rasulullah Saw, tetapi sejak rasul-rasul sebelumnya, Saya belum akan mengupas perntah shalat dari Alkitab terdahulu, Injil dan Taurat. Insya Allah pada laman2 selanjutnya.
Namun, bagi umat non muslim yang belum yakin perintah shalat sudah ada sejak rasul sebelumnya, mengapa ada shalat 7 waktu bagi sebagian umat nasrani? mengapa ada sembahyang yang dilakukan umat Yahudi? Jika kita lihat seksama tatacara shalatnya, niscaya kita akan percaya bahwa perintah Allah telah ada sejak Nabi sebelumnya. Tata cara shalat yang disempurnakan adalah sejak Rasulullah Saw menerima Wahyu shalat setelah Isra Mi'raj.
B. Mengapa kita sholat?
Mengapa kita shalat? apakah hanya menggugurkan kewajiban? Ini sekaligus menjadi pengingat saya, jika suatu waktu shalat saya hanya menggugurkan kewajiban.
Seperti dijelaskan di ayat-ayat di atas, shalat adalah media untuk mengingat Allah Swt. Makna mengingat ini luas. Dengan mengingat keberadaan Allah Swt, maka kita senantiasa merasa diawasi 24 jam, makanya shalat yang benar itu akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar dan lebih utama dari ibadah yang lain. Allah Swt tidak butuh shalat kita, tetapi kitalah yang membutuhkannya.
Surat Al Ankabut:
45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika shalat itu dengan kekhusyukan, maka kita yakin bahwa setiap detik Allah Maha mengawasi. Sebuah perusahaan akan beruntung jika memiliki karyawan yang khusyuk shalatnya. Karena bagaimana dia dapat melakukan kecurangan, padahal merasa diawasi oleh Allah Swt.
bagaimana jika ada pertanyaan, banyak yang shalat tapi masih korupsi?
Surat Al Baqarah:
45. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
46. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
Khusyuk itu berat memang, tapi saat khusyuk, maka insya Allah kita semua dapat menjadi orang yang berdedikasi. Bekerja dan beramal saleh dengan baik dan sungguh-sungguh walaupun tidak diawasi manusia, karena merasa diawasi oleh Allah Swt.
C. Manfaat shalat bagi kehidupan kita
Lebih lagi, mengingat Allah Swt (shalat) merupakan penawar kita dari kesedihan, maupun keputus asaan agar hati kita selalu tentram:
Surat Ar Radu:
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.
Mengapa kita tentram saat mengingat Allah, karena dalam shalat ada beberapa hal yang kita lakukan, di antaranya:
1. permohonan diberikan petunjuk jalan yang benar (dalam surat Al Fatihah), petunjuk dalam mengarungi kehidupan duniawi agar selamat dunia akhirat.
2. tasbih atau pujian dan perwujudan rasa syukur kepada Allah (ruku' dan sujud)
3. Doa-doa untuk kebaikan kita sendiri, kebaikan dunia akhirat (duduk di antara 2 sujud)
4. Penegasan keimanan (syahadat),
Kadang kita terburu-buru dalam shalat, namun ketika doa sangat panjang.Tahukah kita sebenarnya di dalam sholat itu ada doa yang sudah mencangkup kebaikan dunia dan akhirat, yaitu di Al Fatihah dan di duduk antara 2 sujud. Berikut ini adalah arti doa duduk antara 2 sujud:
ya Allah ampunilah aku, (Rabbighfirli)
sayangii aku, (warhamni)
tutuplah aib-aibku (wajburni)
angkatlah derajatku (warfa'ni)
berilah aku rezeki, (warzuqni)
berilah aku petunjuk, (wahdinni)
berikanlah kesehatan (wa'afini)
maafkanlah aku (wafu'ani)
Semua doa di atas untuk kita bukan?
Semoga kita dapat khusyuk dalam shalat kita, bukan hanya mengugurkan kewajiban. Bayangkan jika kita sedang berkomunikasi dengan Sang PEncipta, namun ottak melanglangbuana. Analoginya, kita diundang bertemu presiden, saat diajak berbicara, wajah dan pikiran kita tidak serius menghadapi presiden. Jika diundang bertemu presiden, mungkin kita langsung cari baju baru, belajar berbicara yang sangat baik, dan akan menyimak apa yang disampaikannya. Ketemu presiden saja seperti itu, apalagi bertemu dengan penciptanya presiden.
Ya Allah ingatkanlah kami, untuk senantiasa meningkatkan kualitas shalat kami. Aamiin YRA.
Wassalamu alaikum wr wb.
Mungkin hampir semua dari sahabat muslim mengetahui bahwa sholat adalah rukun Islam yang kedua, yang perintah dari Allah Swt bagi kita semua. Tetapi apakah kita semata-mata sholat karena untuk menggugurkan kewajiban?
A. Perintah sholat sejak Nabi nabi sebelumnya :
Sholat adalah salah satu perintah Allah Swt kepada manusia, bukan hanya umat Rasulullah Saw, tetapi sudah sejak rasul-rasul sebelumnya.
Perintah kepada Nabi Ibrahim as, Surat Al Baqarah:
125. Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”. (sholat)
Perintah kepada nabi Musa as, Surat Taahaa:
11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa.
12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.
13. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Perintah kepada Nabi Isa A
30. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
31. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.
Perintah kepada Nabi Muhammad Saw, surat Al Baqarah:
1.Alif Laam Miim.
2. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa perintah mendirikan shalat tidak hanya kepada Rasulullah Saw, tetapi sejak rasul-rasul sebelumnya, Saya belum akan mengupas perntah shalat dari Alkitab terdahulu, Injil dan Taurat. Insya Allah pada laman2 selanjutnya.
Namun, bagi umat non muslim yang belum yakin perintah shalat sudah ada sejak rasul sebelumnya, mengapa ada shalat 7 waktu bagi sebagian umat nasrani? mengapa ada sembahyang yang dilakukan umat Yahudi? Jika kita lihat seksama tatacara shalatnya, niscaya kita akan percaya bahwa perintah Allah telah ada sejak Nabi sebelumnya. Tata cara shalat yang disempurnakan adalah sejak Rasulullah Saw menerima Wahyu shalat setelah Isra Mi'raj.
B. Mengapa kita sholat?
Mengapa kita shalat? apakah hanya menggugurkan kewajiban? Ini sekaligus menjadi pengingat saya, jika suatu waktu shalat saya hanya menggugurkan kewajiban.
Seperti dijelaskan di ayat-ayat di atas, shalat adalah media untuk mengingat Allah Swt. Makna mengingat ini luas. Dengan mengingat keberadaan Allah Swt, maka kita senantiasa merasa diawasi 24 jam, makanya shalat yang benar itu akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar dan lebih utama dari ibadah yang lain. Allah Swt tidak butuh shalat kita, tetapi kitalah yang membutuhkannya.
Surat Al Ankabut:
45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika shalat itu dengan kekhusyukan, maka kita yakin bahwa setiap detik Allah Maha mengawasi. Sebuah perusahaan akan beruntung jika memiliki karyawan yang khusyuk shalatnya. Karena bagaimana dia dapat melakukan kecurangan, padahal merasa diawasi oleh Allah Swt.
bagaimana jika ada pertanyaan, banyak yang shalat tapi masih korupsi?
Surat Al Baqarah:
45. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
46. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
Khusyuk itu berat memang, tapi saat khusyuk, maka insya Allah kita semua dapat menjadi orang yang berdedikasi. Bekerja dan beramal saleh dengan baik dan sungguh-sungguh walaupun tidak diawasi manusia, karena merasa diawasi oleh Allah Swt.
C. Manfaat shalat bagi kehidupan kita
Lebih lagi, mengingat Allah Swt (shalat) merupakan penawar kita dari kesedihan, maupun keputus asaan agar hati kita selalu tentram:
Surat Ar Radu:
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.
Mengapa kita tentram saat mengingat Allah, karena dalam shalat ada beberapa hal yang kita lakukan, di antaranya:
1. permohonan diberikan petunjuk jalan yang benar (dalam surat Al Fatihah), petunjuk dalam mengarungi kehidupan duniawi agar selamat dunia akhirat.
2. tasbih atau pujian dan perwujudan rasa syukur kepada Allah (ruku' dan sujud)
3. Doa-doa untuk kebaikan kita sendiri, kebaikan dunia akhirat (duduk di antara 2 sujud)
4. Penegasan keimanan (syahadat),
Kadang kita terburu-buru dalam shalat, namun ketika doa sangat panjang.Tahukah kita sebenarnya di dalam sholat itu ada doa yang sudah mencangkup kebaikan dunia dan akhirat, yaitu di Al Fatihah dan di duduk antara 2 sujud. Berikut ini adalah arti doa duduk antara 2 sujud:
ya Allah ampunilah aku, (Rabbighfirli)
sayangii aku, (warhamni)
tutuplah aib-aibku (wajburni)
angkatlah derajatku (warfa'ni)
berilah aku rezeki, (warzuqni)
berilah aku petunjuk, (wahdinni)
berikanlah kesehatan (wa'afini)
maafkanlah aku (wafu'ani)
Semua doa di atas untuk kita bukan?
Semoga kita dapat khusyuk dalam shalat kita, bukan hanya mengugurkan kewajiban. Bayangkan jika kita sedang berkomunikasi dengan Sang PEncipta, namun ottak melanglangbuana. Analoginya, kita diundang bertemu presiden, saat diajak berbicara, wajah dan pikiran kita tidak serius menghadapi presiden. Jika diundang bertemu presiden, mungkin kita langsung cari baju baru, belajar berbicara yang sangat baik, dan akan menyimak apa yang disampaikannya. Ketemu presiden saja seperti itu, apalagi bertemu dengan penciptanya presiden.
Ya Allah ingatkanlah kami, untuk senantiasa meningkatkan kualitas shalat kami. Aamiin YRA.
Wassalamu alaikum wr wb.
Langganan:
Komentar (Atom)