Sedekah
Assalamu alaikum wr wb.
Dear sahabat, ketika kita membaca Al Quran, hal yang paling sering diingatkan oleh Allah adalah shalat dan sedekah, berbagi. Kali ini saya coba fokus ke sedekah/ berbagi dahulu.
Saya sendiri masih jauh dari kriteria orang yang ideal menurut Al Quran dalam hal berbagi. Kadang kita manusia menggunakan perhitungan paling kecil dari berbagi yaitu, zakat. Padahal zakat itu adalah pensucian harta, Allah Swt memerintahkan kita untuk ringan tangan dalam bersedekah. Saya akan mengambil beberapa ayat dalam Al Quran tentang sedekah. Tidak akan cukup laman ini jika saya ambil semua ayat tentang sedekah, karena sebegitu seringnya Allah Swt mengingatkan kita soal keutamaan sedekah
A. Perintah Sedekah
Jika kita membaca Al Quran dari awal, pembukaan di surat Al Baqarah langsung menyinggung tentang sedekah.
Surat Al Baqarah:
1. Alif Laam Miim.
2. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
4. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
B. Ganjaran kebaikan sedekah
Allah Swt juga memberikan kita pacuan untuk bersedekah dengan ganjaran kebaikan di dunia dan akhirat. Jika tidak karena janji Allah Swt, mungkin sebagian besar kita begitu kikir, dan cenderung menyimpan harta untuk dirinya sendiri, tidak memberikan manfaat kepada orang lain.
Surat Al Baqarah
261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Jika kita percaya semua firman Allah swt dan janjinya dalam Al Quran itu benar, maka kita akan yakin dengan janji Allah Swt pd ayat di atas. Bahwa setiap sddekah ganjarannya sangat besar, diumpamakan digandakan 700 x lipat.
Jika kita tidak dididik untuk berbagi mungkin kecenderungan kita adalah mengikuti hawa nafsu. Nilai Rp. 50 juta secara matematis sama dengan Rp.50 juta. Tetapi di mata Allah Swt, Rp. 50 juta untuk sedekah, amal jariyah atau wakaf berbeda dengan Rp. 50 juta untuk membeli sesuatu yang tidak ada manfaatnya, missal tas mahal atau perhiasan.
Rp.50 juta untuk amal jariyah, misalnya untuk fasilitas pendidikan, atau membuat sumur untuk daerah yang kesulitan sumur, atau masjid. Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 261, kita sudah dijanjikan bahwa akan dilipatgandakan. Selain itu menjadi bekal kita di dunia maupun di akhirat.
Kita sering mendengar istilah passive income dalam berbisnis, dimana harta kita akan memberikan pendapatan tanpa kita bekerja.
Konsep amal jariyah dapat dianalogikan dengan passive income. Karena setiap uang yang kita sedekahkan bermanfaat bagi orang lain, akan menjadi tambahan kebaikan atau pahala bagi kita, Sebagai manusia pasti kita tidak luput dari khilaf ; marah, buruk sangka, berghibah, underestimate orang lain dsb. bahkan bias jadi amalan sholat kita yang kualitasnya biasa saja kita mampu mengimbangi dosa-dosa kecil yang menumpuk itu,
Disinilah amal jariyah menjadi passive income yang akan membantu menambah pahala dan kebaikan bagi kita. Selain janji Allah bahwa Allah Swt akan mengantinya bahkan melipatgandakannya.
Dalam ajaran Islam juga dijelaskan bahwa, semua amalan manusia putus saat ia meninggal kecuali 3 hal :
1. Amal jariyah
2. Ilmu yang bermanfaat
3. Doa anak sholeh
Jika kita belum mampu berwakaf, mari sedekah jariyah dari hal yang kecil. Rp. 100 ribu untuk makan di restoran, tidak menjadi apa-apa saat makanan itu sudah menjadi kotoran. Tapi Rp. 100 ribu bisa menjadi passive income kita, dengan memberikan 1 set alat sholat bagi sesama, atau yang membutuhkan.
Bukan berarti kita tidak boleh makan di restoran, tetapi kita juga perlu menggunakan perhitungan saat membelanjakan setiap rupiah kita. Mungkin bisa dimulai bulan ini, 1 bulan 1 mukena, atau 1 bulan 1 sarung. Bayangkan, ketika mereka bermunajat kepada Allah Swt menggunakan alat sholat yang kita berikan, itu menjadi passive income kita, di tengah kehidupan duniawi kita yang mungkin setiap detiknya masih banyak hal sia-sia.
C. Teguran jika kita kikir/bakhil
Begitu besarnya keutamaan sedekah, Allah Swt menegur kita agar menjauhkan diri dari sikap kikir.
Surat Al Ma'uun:
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,
6. orang-orang yang berbuat ria.
7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Peringatan jika terlalu mencintai harta
Surat Al Humazah:
1.Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,
3. dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,
4. sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
5. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
6. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
7. yang (membakar) sampai ke hati...
Al Adiyat:
6. sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
7. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
8. dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
9. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,
10. dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,
11. sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.
Maksudnya keadaan mereka adalah hasil dari timbangan kita setelah dibangkitkan dari kubur. Dalam Al-Quran berulang-ulang disebutkan bahwa setiap saat malaikat mencatat amal baik dan buruk kita. Merugilah kita jika buku catatan itu ternyata menunjukan, amal baik kita tekor, tidak dapat menutupi catatan buruk kita.
D. Konsekuensi amal baik dan buruk manusia
Sedekah adalah penolong kita untuk mengimbangi catatan buruk kita.
Surat Az Zalzalah:
6. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.
7. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
8. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.
Bagaimana konsekuensi dari hasil catatan amal ini? Mari simak terjemahan
Surat Al Qariah:
6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya,
7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya,
9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
10. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.
Summary: Ajaran Islam sangat menganjurkan untuk memberikan kebaikan kepada sesama. Sedekah itu bukan untuk orang lain, bukan untuk Allah Swt, tetapi untuk menyelamatkan kita sendiri, untuk kebaikan di dunia dan akhirat kita, jika niat kita benar-benar lurus bahwa sedekah itu semata-mata untuk mencari keridhaan Allah Swt bukan untuk riya.
Mohon maaf jika ada kekurangannya. Masih sangat banyak ayat yang lain membahas tentang sedekah, mari mengisi hari-hari kita dnegan Al Quran bagi yang sudah fasih bahasa arab, atau mentadabur Al Quran dengan membaca terjemahannya. Insya Allah kita akan menemui begitu banyaknya ayat tentang sedekah.
Wassalamu alaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar